Feeds:
Tulisan
Komentar

Taman Bermain (Playgrou

Wisatawan keluarga dimanjakan oleh Pemda Boyolali dengan fasilitas taman bermain untuk anak-anak. Taman Bermain ini berada di kompleks xxxx yang terletak di tepi jalan utama. Kompleks xxx mencakup fasilitas theater terbuka, Merapi Volcano Theater, Joglo terbuka untuk pertemuan dan fasilitas MCK. Beberapa fasilitas permainan yang ada di playground ini diantaranya adalah ayunan, bola dunia, jungkat-jungkit, dan sebagainya.

Saat ini upaya konservasi cenderung dipilah menjadi 2 kategori besar, yaitu konservasi in situ dan konservasi eksitu. Konservasi in situ adalah upaya konservasi suatu species di habitat aslinya, sebaliknya konservasi ek situ adalah upaya konservasi suatu species di luar habitat aslinya. Kalo melihat pengertian awalnya sebenarnya upaya konservasi sudah terbagi habis menjadi 2 kelompok tadi, dimana konservasi dibagi menjadi di dalam dan diluar habitat aslinya.

Pada perkembangannya, terminologi konservasi ek situ cenderung terspesialisasi menjadi suatu upaya konservasi yang dilakukan di luar habitat manusia dengan intervensi manusia yang cukup intensif, sehingga rujukan contoh kawasan konservasi eksitu adalah kebun binatang (zoos), kebun raya (botanical garden), sea world (aquaria), bank genetik, kebun plasma nutfah dsb.

Pendekatan konservasi eksitu memiliki kritik berkaitan dengan (1) minimnya jumlah jenis yang dikonservasi, karena terutama hanya berfokus pada mamalia, reptilia dan aves, sementara takson lain diabaikan, (2) membutuhkan pendanaan yang cukup besar, (3) membutuhkan keahlian khusus, sehingga cenderung ekslusif dimana tidak semua orang mampu melakukannya, hanya yang memiliki keahlian atau ketrampilan tertentu, (4) etika yang berkaitan dengan kesejahteraan hewan (animal welfare).

Sedangkan konservasi insitu juga memiliki kelemahan yang berkaitan dengan (1) kebutuhan luasan yang cukup luas, saat ini sulit mengalokasikan lahan yang cukup luas agar tidak bertabrakan dengan kepentingan ekonomi masyarakat setempat, dan (2) jaminan kelestarian populasi sulit dipertanggungjawabkan selama konflik sosial ekonomi masih ada,

Meskipun bukan gagasan baru, bahkan telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak jaman dahulu, upaya pengintegrasian konservasi dalam kehidupan sehari-hari perlu direvitalisasi. Masyarakat tradisional dengan kearifannya mampu menjadi benteng kelestarian keragaman hayati. Sebagai contoh, masyarakat Kasepuhan Badui berhasil mengkonservasi 40-an varietas padi lokal ditengah gempuran intensifikasi pertanian yang menyeragamkan jenis padi yang ditanam. Agroforestry repong damar di Krui berhasil menciptakan iklim mikro dan keragaman hayati yang tidak kalah dengan hutan primer di konsesi HPH di sebelahnya. Upaya ini sekarang dikenal dengan istilah ON FARM CONSERVATION atau konservasi di lahan budidaya. Dalam masyarakat tradisional mereka tidak mengenal istilah insitu dan eksitu, karena aktivitas sehari-hari mereka pun sudah konservatif. Upaya konservasi telah terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari termasuk pada saat mereka melakukan budidaya pertanian di lahan-lahan yang mereka kelola.

Pada era modern seperti sekarang mungkinkah upaya ini dikembangkan? Seiring dengan maraknya upaya go to green, kembali ke organik, serta upaya-upaya aktivitas ekonomi yang ramah dengan alam, potensi pengintegrasian konservasi ke dalam kehidupan sehari-hari kita cukup menantang. Bahkan kalo semua masyarakat sudah sadar dan melakukan upaya konservasi di manapun mereka berada, maka kawasan konservasi insitu seperti Taman Nasional, Cagar Alam, Suaka Margasatwa dan lain sebagainya. Juga kawasan konservasi eksitu, kebun binatang da sebagainya tidak lagi diperlukan. Apakah ini sebuah utopia? Waktu yang akan membuktikannya.

Ada suatu trend di dunia cyber yang dikenal dengan istilah ‘citizen jurnalisme’. Citizen jurnalisme (CJ) adalah masyarakat umum berperan menjadi wartawan melaporkan sesuatu yang dia lihat, dia alami, dia pikirkan agar diketahui khalayak melalui pemanfaatan kemajuan teknologi informasi. Kelebihan CJ adalah sifatnya yang partisipatif, lebih cepat, dan lebih personal. Saya pernah mendengarkan di radio, saat Tsunami di Pangandaran tahun yll seorang wisatawan –korban yang selamat— sambil terengah-engah melaporkan apa yang dia lihat beberapa menit pasca gelombang tsunami menghantam pantai pangandaran. Luar biasa mencekam, dan mengharukan, membuat kita serasa larut di dalamnya.

Alangkah indahnya kalo dalam reuni ini kita mendorong CJ. Saya membayangkan kalo saja 5 % peserta reuni mau meluangkan waktu mengirimkan artikel ke blog lustrum IX atau minimal mengirim laporan pandangan mata-nya ke milis forestGAM atau e-mail panitia, maka Panitia akan membantu mengup-loadkannya ke blog. Manfaatnya jelas, pertama membantu rekan-rekan yang kebetulan tidak bisa datang ke Yogya untuk mengakses perkembangan yang ada selama reuni kita, kedua meningkatkan gaung dari penyelenggaraan reuni itu sendiri.

Seharian kemarin saya ada di lokasi reuni, meskipun terkadang on-off karena aktivitas kepanitiaan dan intervensi pekerjaan lain. Sebenarnya menarik menyimak perkembangan yang ada di dalam reuni. Pada acara uneg-uneg misalnya mas Bambang Priambodo ITCI mengkritik tentang keikutsertaan mahasiswa dalam reuni yang kalah (harus keluar ruangan acara TEMU ALUMNI DAN MAHASISWA) karena ternyata mereka harus ikut kuliah yang lain. Apakah Fakultas tidak mampu membebaskan mahasiswa-mahasiswa tadi agar bisa lebih konsen terlibat dalam pesta reuni bersama para alumni. Kritik yang lain adalah soal, partisipasi tuan rumah (baca dosen) dalam ‘pesta’ ini, karena banyak “TOKOH” dosen yang tidak kelihatan batang hidungnya. Untung saya tidak termasuk TOKOH, sehingga kalo pun tidak muncul, tidak dicari he he he.

Kalau itu semua ada yang melaporkan dan kita up load dalam blog, tentu akan menjadi wacana yang menarik. Sayang budaya kita masih jauh dari sana. Pertama, penetrasi budaya internet masih terbatas pada kalangan tertentu (kaum muda, yang punya e-literacy tinggi terutama). Kedua, budaya menulis kita mungkin masih rendah, ketiga kita lebih sering mendown-load daripada meng-up load. Ternyata saya juga kesulitan mencari pasokan materi resmi, notulen-notulen yang saya harapkan ternyata juga dapat menyediakan materi yang dapat saya up load.

Yeah, mungkin 5 tahun lagi baru, kita bisa mengatakan YES, WE CAN.

Manfaat catatan yang bagus akan membantu kita:
1. berfikir kritis tentang apa yang kita baca
2. membantu kita menganalisa teks
3. membantu kita masuk ke dalam teks
4. memudahkan kita untuk menarik hubungan dengan penelitian yang lain.
5. memudahkan kita menarik kesimpulan dari penelitian
6. menggaris bawahi bidang yang kita butuhkan untuk pengembangan lebih lanjut. Lanjut Baca »

Ketrampilan membuat catatan

Mencatat kuliah dan bacaan merupakan ketrampilan yang penting untuk belajar di Perguruan Tinggi. Catatan yang baik akan menjadi rekaman yang permanen untuk mendaftar poin-poin penting yang akan membantu kita memadukannya dalam tulisan atau perkataan kita sendiri. Catatan yang baik akan mengurangi resiko plagiat, serta membantu membedakan gagasan yang berasal dari kita sendiri atau dari orang lain, dan menggambarkan bagaimana perspektif kita terhadap gagasan tersebut.

Catatan yang efektif membutuhkan:
1. pengenalan terhadap gagasan utama
2. identifikasi informasi apa yang relevan terhadap tugas kita
3. memiliki suatu sistem pencatatan yang bekerja untuk kita
4. mengurangi informasi menjadi catatan dan format diagram
5. jika memungkinkan menulis informasi itu ke dalam bahasa kita sendiri
6. merekam sumber informasi

Strategi Mencatat Bacaan
1. Selektif dan sistematis
Tidak semua bacaan yang kita baca relevan dengan kebutuhan kita. Fikirkan tujuan kita membaca:
a. apakah kita membaca untuk memahami topik atau konsep secara umum?
b. Apakah kita membaca informasi tertentu yang berkaitan dengan topik atau tugas kita.
Sebelum memulai membuat catatan, bacalah teks secara cepat. Garisbawahi atau stabilo poin-poin utama dan informasi yang relevan dengan kebutuhan kita. Dengan mengingat tujuan kita membaca, bacalah secara hati-hati bagian tersebut dan buatlah catatan terpisah tentang apa yang kita baca.
2. mengidentifikasi tujuan dan fungsi dari sebuah teks
Kita ingin mencatat tentang sebagian atau keseluruhan tulisan, keduanya membutuhkan identifikasi tujuan utama dan fungsi dari sebuah teks agar pencatatan kita efektif dan efisien. Langkah-langkahnya adalah sbb:
a. membaca juudul dan abstrak
b. membaca pendahuluan atau halaman pertama
c. skim (baca sekilas) tulisan untuk mengetahui bagaimana tulisan tersebut diorganisir
d. baca grafik-grafik dan tebak maksud dari tulisan.
Tujuan kita adalah untuk mengidentifikasi informasi penting apa yang dapat disajikan oleh overview dari tulisan yang kita pilih untuk dibaca. Tanyakan ke diri kita sendiri, apakah tulisan tersebut memberikan informasi yang kita butuhkan, dan pada bagian mana informasi itu terletak dalam tulisan.
3. Mengidentifikasi bagaimana informasi diorganisir?
Kebanyakan teks menggunakan prinsip-prinsip pengorganisasian yang logis. Beberapa pengorganisasian yang umum adalah:
” Gagasan lama ke gagasan baru
” Langkah-langkah dalam suatu proses
” Dari poin-poin yang terpenting ke poin yang kurang penting
” Gagasan yang umum ke gagasan yang kurang popular
” Gagasan yang sederhana ke gagasan yang kompleks
” Gagasan umum ke gagasan khusus.
” Bagian yang terbesar ke bagian yang terkecil dari sesuatu
” Permasalahan dan penyelesaian
” Penyebab dan hasil
4. Memasukkan pemikiran kita
Ketika mencatat untuk suatu tugas, sangat bermanfaat untuk merekam pemikiran kita sepanjang waktu. Rekam pemikiran kita dalam sebuah kolom yang terpisah atau dalam sebuah tulisan yang berwarna yang berbeda.
” Gagasan apa yang muncul setelah membaca informasi tersebut.
” Bagaimana pemikiran kita agar dapat memanfaatkan informasi tersebut ke dalam tugas yang akan kita kerjakan

Cara mengcari artikel jurnal ilmiah secara on line.

1. ketik http://lib.ugm.ac.id pada browser yang Anda pakai (Internet Explorer, Mozilla Firefox, Opera atau yang lain).
2. akan muncul hasil sebagai berikut.

lib.ugm.ac

3. Dibagian bawah halaman tersebut, akan ada beberapa menu pilihan database jurnal seperti J-stor, Science, Science Direct, IEEE computer society, EBSCO, ProQuest. Anda boleh memilih salah satu, namun untuk bidang pertanian dan sebangsanya (termasuk kehutanan dan konservasi sumber daya alam) sangat disarankan anda memilih Science Direct.
4. Akan muncul hasil sebagai berikut

science direct

5. Anda dapat memasukkan key-word (kata kunci) yang berkaitan dengan artikel yang kita maksud. Pencarian dapat berdasarkan pada
a. Judul, ringkasan, kata kunci —- anda pilih melalui pengisian kolom disamping title, abstract, keywords
b. Penulis —- anda pilih melalui pengisian kolom disamping tulisan author
c. Judul Jurnal/Buku—anda pilih melalui pengisian kolom disamping tulisan jurnal/book title
6. Pencarian yang umum (dalam artian kita agak berspekulasi tentang artikel-artikel yang kita cari, disarankan untuk mencari menggunakan fasilitas pencarian Title, abstract, keyword.
7. Pencarian yang spesifik, misalnya kita telah tahu pengarangnya, atau judulnya dapat dicari dengan mengisi lebih dari satu pilihan, misalnya KEYWORD bersama AUTHOR, bahkan dapat kita lebih lokalisir dengan memasukkan volume dan tahun terbitan. Ini mengantisipasi kita harus mencari artikel satu per satu, jika hasil pencarian kita menghasilkan banyak keluaran.

science direct2

 

 

8. Keluaran pada prinsipnya dapat dikelompokkan, menjadi
a. Full-text
b. Non-subscribe
Full-text biasanya kotak di belakang no urut keluaran, (depan judul artikel) berwarna hijau, artinya artikel itu tersedia di database dan dapat diakses karena sudah dilanggan oleh UGM
Kotak yang kosong (tidak berwarna hijau) artinya artikel tersebut tidak termasuk artikel dalam database yang dilanggan UGM.
9. Artikel full teks dapat kita unduh (download) dengan mengklik, logo pdf di bawah judul artikel.
10. Jika Logo pdf diklik, maka browser akan membuka halaman baru yang menunjukkan artikel yang kita maksud. Proses ini dapat agak lama tergantung akses internet kita saat itu dan jumlah halaman dari artikel yang dimaksud.
11. Setelah terbuka artikel yang dimaksud, dan kita ingin mengcopy-nya kita dapat menyimpannya dengan FILE-SAVE AS sesuaikan dengan judul baru yang kita hendaki dalam media penyimpan kita.

Reuni dan Revolusi ICT

Reuni kita kali menikmati kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sehingga tak terasa kita akan mengalami suasana pra reuni yang sangat berbeda dengan tauhun-tahun sebelumnya. Setelah bertahun-tahun menjadi alumni Fakultas Kehutanan UGM saya baru merasakan suasana persiapan reuni yang begitu intens dan bergerak simultan di berbagai penjuru kota di Indonesia,bahkan alumnus yang saat ini sedang studi di manca pun ikut berkontribusi pemikiran. Membaca e-mail Pak Tachrir, yang menawarkan solusi up loading surat ijin dari Dekan Fakultas Kehutanan UGM untuk menghadiri seminar di UGM untuk mengatasi lambatnya pos siput yang kita miliki (waduuuh hampir lupa kalo kita punya BUMN PT Pos Indonesia yang dulu sangat kita nanti-nanti kehadirannya pada saat menjelang lebaran tiba). Saya baru teringat jasa itu saat tim sekretariat mencoba mendistribusikan leaflet yang didisain tim saya (Publikasi) ke seluruh Indonesia. Wah, satu juta rupiah melayang untuk mengirimkan 400 amplop yang (he he he) tidak tahu kapan sampainya. Padahal dalam beberapa hari sebelumnya leaflet versi pdf telah di-up load di blog http://lustrumkehutanan2008.wordpress.com dan telah diakses dari berbagai lokasi di Indonesia dan manca (lihat di statistic blog). Sungguh revolusi yang luar biasa. Desain leaflet yang telah selesai seminggu sebelum lebaran, ternyata harus ikut cuti lebaran di percetakan, bahkan setelah H+7 pun kami harus bolak balik menteror petugas Gama Press untuk mempercepat prosesnya. Hari pertama masuk timnya mbak Fajar (sekretaris Lustrum) sudah bekerja mengetik ulang alamat yang akan dikirimi leaflet, dan menghabiskan 3 hari menyelesaikannya. Cetakan belum selesai, koreksi jadwal muncul dari Pengurus Kagama (he he he, mas Satyawan mencoba mengkontak percetakan untuk meralatnya). Dan saya tinggal buka blog, ketik up date jadwal acara reuni…… Sungguh kemudahan yang luar biasa…..

Hiruk pikuk persiapan lustrum IX yang terasa mengoncangkan milist FOREST_GAM, episentrum kegiatan tidak lagi didominasi Yogyakarta maupun Jakarta saja. Bahkan kalo kawan-kawan datang ke kampus mungkin saat ini kehangatan persiapan reuni masih belumlah sehangat diskusi di milist kita. Kesimpulan yang bisa saya tarik adalah ternyata kita (rimbawan) tidak gagap teknologi, he3x saya jadi ingat saat ini ada milist dosen, karyawan dan mahasiswa kehutanan UGM yang bicara soal teknis ICT di kampus diberinama forestergakgaptek@yahoogroups.com. Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi dapat menjadi tools yang sangat bermanfaat bagi profesi rimbawan yang seringkali karena profesi harus terpisahkan ke seluruh penjuru Indonesia dan dunia. Kita sudah banyak memanfaatkan ICT sebagai media silaturahim, namun sudahkah kita mulai memikirkan untuk memanfaatkan kemajuan ICT sebagai wahana SPIRALISASI PENGETAHUAN di bidang Kehutanan??? Fakultas Kehutanan UGM sudah berinvestasi membeli seperangkat alat videoteleconference yang dapat dimanfaatkan untuk sharing knowledge. Paper mbak Ari Susanti berdua dengan saya tentang Perkembangan TIK untuk pendukung Pendidikan Kehutanan di Indonesia, diterima sebagai presentation paper di seminar Forestry Education di Pilipina November ini.

Saya jadi ingat diskusi komisi-komisi yang ada, mungkin perlu diberi ruang pula untuk paper-paper yang tidak terlalu substantive di bidang kehutanan namun supporting terhadap kehutanan. Ada baiknya thema Komisi V diubah dari Hutan dan Perubahan Iklim Global, menjadi “Kehutanan dan ‘IKLIM’ Global yang berubah”. Thema baru ini akan lebih fleksibel dimasuki paper-paper yang mungkin sulit masuk ke komisi-komisi yang sudah ada.

Terakhir, karena saat ini sedang marak-maraknya meletusnya Bubble economic activity di Amerika yang berdampak global, semoga hiruk pikuk kita ini juga bukan sesuatu yang Bubble activity, ….semoga.

Salam,
Taufik

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.